Hippocrates adalah orang yang pertama berhasil mengidentifikasi gejala epilepsy sebagai masalah pada otak.
Menurut dr. Mohamad Saekhu, SpBS, dari Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM Jakarta, epilepsi terjadi akibat tidak normalnya aktivitas listrik di otak. Hal ini menyebabkan kejang dan perubahan perilaku dan hilangnya kesadaran. Tanda-tandanya bisa berupa kehilangan kesadaran untuk waktu tertentu, kejang, lidah menjulur, keluar air liur, gemetar atau tiba-tiba black out.
Orang yang hidup dengan epilepsi atau ODE di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang dan 1,5 juta di antaranya di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari seperempatnya atau hampir 400.000 orang tidak bisa lagi diobati. Satu-satunya cara penyembuhan penderita epilepsi adalah bedah syaraf.
Ada dua alat bantu yang biasa digunakan untuk penderita epilepsi,yaitu :
· MRI (Magnetic resonance imaging) Menggunakan magnet yang sangat kuat untuk mendapatkan gambaran dalam tubuh/otak seseorang
· EEG (electroencephalography) alat untuk memeriksa gelombang otak
Ada dua jenis epilepsi yang dikenal, yaitu epilepsi umum, berupa hilangnya kesadaran, kejang seluruh tubuh hingga mengeluarkan air liur berbusa dan napas mengorok, serta terjadi kontraksi otot yang mengakibatkan pasien mendadak jatuh atau melemparkan benda yang tengah dipegangnya.
Selain itu dikenal epilepsi parsial yang ditunjukkan oleh rasa kesemutan atau rasa kenal pada satu tempat yang berlangsung beberapa menit atau jam. Bisa juga, rasa seperti bermimpi, daya ingat terganggu, halusinasi, atau kosong pikiran. Seringkali diikuti mengulang-ulang ucapan, melamun, dan berlari-lari tanpa tujuan.
Epilepsi dapat di sebabkan karna faktor keturunan dan bisa juga karna berbagai penyakit yang mengganggu fungsi otak, seperti : kelainan bentuk otak (congenital), infeksi penyakit yang menyebabkan radang otak, step berulang, gangguan metabolisme.
Penderita epilepsi sebagian besar memang anak-anak, namun epilepsi juga bisa muncul di usia dewasa. Menurut dr.Hanif Tobing, ahli bedah saraf dari FKUI/RSCM, kasus epilepsi pada orang dewasa biasanya terjadi karena infeksi atau trauma di kepala akibat kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan memar otak.
Menurut dr.Saekhu, obat-obatan yang diberikan pada pasien epilepsi tidak langsung menyembuhkan epilepsi, tapi hanya bersifat mengendalikan atau menjarangkan serangan, “Tujuan utama pengobatan epilepsi adalah bebas kejang,” paparnya.
Seorang penyandang epilepsi umumnya memerlukan obat sampai tidak dijumpai lagi serangan dalam jarak waktu tertentu, tergantung dari tipe epilepsi, riwayat epilepsi masa lalu, dan hasil rekaman listrik otak.
Yang perlu diketahui, adalah bahwa epilepsi tidak selalu mengakibatkan kemunduran kecerdasan pada penderita. Anak juga bisa bisa beraktivitas dengan normal seperti anak sehat lainnya asalkan tetap teratur mengonsumsi obat.
..Mari sadari dan selamatkan sejak awal..
